Penggunaan Sirtu Pada Konstruksi

Sirtu merupakan singkatan dari pasir batu. Sirtu berasal dari dua bagian yang berukuran besar yang merupakan material dari batuan beku, metamorf dan sedimen. Sedangkan pasir batu yang halus terdiri dari pasir dan lempung. Sirtu terjadi karena akumulasi pasir dan batuan yang terendapkan di daerah-daerah relatif rendah atau lembah.

Material terkikis dari batuan induknya bercampur menjadi satu dengan material halus. Kuatnya proses pelapukan batuan dan jauhnya transportasi membuat material batuan berbentuk elips atau bulat dengan ukuran mulai kerikil sampai bongkah. Sirtu biasanya tersebar di daerah aliran sungai. Sirtu juga dapat diperoleh dari satuan konglomerat atau breksi yang tersebar di daerah dataran tinggi.

Pertumbuhan pesat infrastruktur di tingkat global telah menjadikan beton sebagai bahan konstruksi yang paling banyak digunakan dan umum digunakan di seluruh dunia. Hal ini telah menciptakan tekanan yang sangat besar pada industri beton untuk memproduksi beton dalam jumlah besar guna memenuhi permintaan pembangunan infrastruktur yang terus meningkat. Biaya produksi beton terutama bergantung pada biaya bahan baku penyusunnya yaitu, semen, agregat (kasar dan halus) dan air.

Diantara bahan baku penyusunnya, Pasir sungai yang membentuk sekitar 35% dari volume beton berperan penting dalam menentukan biaya beton. Sumber pasir sungai yang menipis dan pedoman lingkungan yang ketat tentang pertambangan telah secara bertahap mengalihkan perhatian industri beton ke arah alternatif agregat halus yang sesuai yang dapat menggantikan pasir sungai saat ini . Sirtu telah muncul sebagai alternatif yang layak untuk mengganti pasir sungai dan sekarang digunakan secara umum di seluruh dunia sebagai agregat halus dalam beton. Sirtu biasanya digunakan untuk bahan bangunan terutama untuk campuran beton.

Penggalian sering dilakukan dengan secara tradisional tanpa memperhatikan dampak lingkungan. Sirtu yang lepas sangat baik untuk bahan pengeras jalan biasa maupun jalan tol, dan bandara. Selain itu dapat pula digunakan dalam campuran beton, aspal/hotmix, plester, bahan bangunan dan tanah urug. Biasanya sirtu diendapkan pada lingkungan air seperti sungai, danau maupun laut dikenal dengan sebutan aluvium.

Kenampakan sirtu saat ini adalah sesuatu yang tidak padu antara meterial batuan dengan halusnya. Bila endapan aluvium ini sudah terbentuk dengan ketebalan dan penyebaran yang sangat luas, bersamaan dengan berjalannya waktu dan proses geologi yang berkerja sehingga kenampakan batuan ini sudah berada pada daerah ketinggian atau bukit. Nama sirtu pun beralih menjadi konglomerat karena batuan tersebut sudah padu menjadi satu antara material batuan dengan material halusnya. Untuk dipakai sebagai agregat beton, sirtu harus bebas dari bahan-bahan organis, kotoran-kotoran, lempung atau bahan lainnya merugikan mutu beton;

Tips Memilih Sirtu yang Baik

1. Lakukan Pengepalan Sirtu

Anda bisa mencoba menggenggam sirtu kemudian lepaskan, setelah itu perhatikan apakah pasir lengket di tangan atau tidak. Jika Anda bisa membersihkannya dengan hanya menepuk kedua tangan maka itulah pertanda bahwa sirtu tersebut berkualitas baik. Tetapi jika setelah pasir dilepas terasa lengket ditangan maka dapat disimpulkan sirtu tersebut memiliki kandungan lumpur yang tinggi dimana hal ini tidak cocok digunakan untuk bahan bangunan.

2. Masukkan Sirtu Kedalam Air

Tips berikutnya bisa dicoba dengan memasukkan sirtu kedalam air kemudian amati apa yang terjadi, jika pasir tersebut larut dalam air berarti sirtu tersebut mempunyai banyak kandungan lumpur, namun jika sirtu tidak mudah larut dalam air itulah yang harus Anda pilih. Pemilihan sirtu  yang baik dapat menentukan hasil bangunan yang maksimal, diskusikan secara jelas dengan pekerja bangunan mengenai rencana pembangunan Anda.

Fungsi Sirtu

  • Sirtu Sebagai Campuran Beton

Efektivitas beton tergantung pada bahan dan konsistensinya. Tentunya Anda tidak ingin mendapatkan campuran yang menyusut atau menjadi rapuh ataupun encer. Akan ada empat bahan dasar yang Anda butuhkan dalam campuran Anda: semen , pasir, kerikil, dan air. Menambahkan air akan membentuk pasta yang akan mengikat semua bahan hingga campuran mengeras. Kekuatan beton berbanding terbalik dengan rasio air / semen.

Dengan kata lain, semakin banyak air yang Anda gunakan untuk mengaduk beton, semakin lemah campuran beton tersebut. Semakin sedikit air yang Anda gunakan untuk mencampur beton, semakin kuat campuran beton tersebut. Campuran dengan sedikit air dan lebih banyak campuran beton akan lebih kering dan kurang bisa diterapkan tetapi lebih kuat.

Sirtu membantu mengurangi biaya dan juga membatasi jumlah penyusutan yang terjadi pada beton saat diawetkan. Untuk membuat beton lebih kuat, tambahkan lebih banyak semen atau lebih sedikit pasir. Semakin dekat Anda membuat rasio menjadi satu banding satu pasir ke semen, semakin kuat peringkatnya. Prinsip-prinsip ini juga berlaku sebaliknya.

Jika Anda ingin sedikit lebih teknis, beberapa ahli beton merekomendasikan untuk menggunakan 26 persen pasir, 41 persen kerikil, 11 persen semen, dan 16 persen air. Volume yang kurang 6 persen adalah aliran udara. Air entrainment adalah campuran yang ditambahkan ke dalam campuran selama produksi untuk membantu campuran dalam menahan efek merusak dari siklus freeze-thaw.

Campuran ini diperlukan di semua beton yang diekspos ke elemen eksterior. Secara keseluruhan ini membuat campuran tujuan umum yang baik untuk fondasi dan struktur lainnya.

Anda dapat mencapai rasio pencampuran yang akurat dengan menggunakan ember atau alat pengukur lainnya untuk mendapatkan jumlah yang tepat dari setiap bahan untuk campuran Anda. Mendapatkan rasio yang tepat selama proses berarti mendapatkan campuran yang konsisten di seluruh proyek beton Anda.

  • Sirtu Sebagai Bahan Pengurukan

Fungsi lain sirtu yaitu untuk pengurukan. Batu Sirtu mempunyai sifat licin karena bentuk batunya yang bulat maka cocok juga digunakan untuk pengurukan lantai rumah, lahan parkir atau lainnya yang akan segera di timpa coran atau pemasangan keramik diatasnya.

  • Sirtu Sebagai Bahan Jalan Beton

Sirtu juga sering digunakan pada konstruksi jalan beton. Sirtu menjadi material yang harus ada untuk lapisan pondasi bawah. Lapisan ini terdiri dari campuran 50% batu pecah dan juga 50% batu bulat. Lapisan ini disertai dengan pasir bergradasi dan proporsi tertentu yang kemudian ditempatkan di atas tanah dasar.

Umumnya, bahan yang dipakai pada jenis pondasi jalan beton ini adalah pasir dan agregat. Pasir merupakan agregat halus. Cirinya adalah memiliki ukuran yang sangat halus, yakni 0,25 sampai dengan 4,75 mm.

Agregat ini disebut juga dengan kerikil yang bentuknya berupa batu pecahan dari alam maupun koral. Batu ini sangat keras sehingga untuk memecahkannya dibutuhkan mesin khusus. Batu ini sangat kuat untuk menunjang fungsi pondasi lapisan bawah pada jalan beton. Ukuran batu pecah ini adalah maksimal 50 mm.

Untuk menunjang semua pekerjaan di atas, maka dibutuhkan alat-alat khusus berupa alat angkut dan juga kereta dorong. Sedangkan alat penghampar agregat bisa berupa mistar pelurus. Untuk alat pemadat yang digunakan bisa berupa mesin gilas maupun tamper dan timbris.

Sebelum sirtu diaplikasikan untuk jalan beton, maka dipersiapkan dulu tanah dasarnya. Pertama, dilakukan dulu pekerjaan untuk memperoleh elevasi dan kekuatan tanah dasar sesuai rencana. Tahap ini dilakukan dengan: pembersihan, pembentukan badan jalan, pemadatan badan jalan serta pemadatan tanah dasar. Setelah tahap di atas lalu dilakukan tahap penghamparan sirtu atau lapis pondasi agregat. Pekerjaan ini meliputi pengangkutan, penghamparan, dan yang tak kalah penting adalah pemadatan agregat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top